Masjid pathok Negoro, Wonokromo

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo merupakan salah satu dari Lima Masjid Pathoknegara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Tulisan ini merupakan bagian ahir dari 6 tulisan serial 5 masjid pathok negara kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Masjid Pathok Negara Taqwa, Wonokromo didirkan pertama kali oleh Kyai Mohammad Fakih. Beliau adalah seorang guru agama Islam Bertempat tinggal di desa Ketonggo. Dan terkenal juga dengan panggilan “Kyai Welit”. Karena kesenangannya menganyam daun alang alang menjadi atap atau disebut welit. Welit yang dibuatnya tidaklah untuk dijual tapi hanya dibagi bagikan ke mereka yang membutuhkan.

Kyai Muhammad Fakih merupakan guru sekaligus kakak ipar dari Sultan Hamengkubuwono I (Raja Yokyakarta) Karena Sultan Sultan Hamengkubuwono menikah dengan putri kedua Ki Derpoyudo sedangkan Kyai Muhammad Fakih menikah dengan putri pertama Ki Derpoyodo yang merupakan seorang tokoh masyarakat Laweyan Surakarta.

Ketika menjadi murid dari Kyai Muhammad Fakih Sultan pernah meminta nasihat kepada Kyai Muhammad Faqih bagaimana agar negara senantiasa aman. Kyai Muhammad Faqih memberikan nasihat agar sultan agar Sultan melantik orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut “Pathok”. Dan memilih “Kenthol” (kepala pedesaan/desa). Sultan setuju dengan nasihat Kyai Muhammad Faqih dan mengangkat Pathok yang ditempatkan di desa Mlangi, Plosokuning, Babadan Gedong Kuning,Ringinsari Genthan, Demak Ijo, Klegum, Godean dan Jumeneng.

Tahun 1774 M Kyai Moh. Fakih dilantik menjadi kepala Pathok, dan dianugerahi tanah perdikan di sebelah selatan Ketonggo, yang masih berupa hutan yang banyak ditumbuhi pohon awar-awar, karenanya disebut alas awar-awar. Tanah anugrah Sultan yang masih berupa hutan awar-awar itu dibuka dan kemudian didirikan sebuah masjid kecil. Setelah selesai, Kyai Moh. Fakih menghadap Sultan menyampaikan laporan bahwa di atas tanah perdikan itu sudah didirikan sebuah masjid.  Atas amanat Sultan Hamengkubuwono maka hutan awar-awar yang sudah di buka dan sudah didirikan masjid itu diberi nama “WA ANA KAROMA” yang maksudnya “Supaya benar-benar Mulya” atau “Agar Mulya Sungguh-sungguh”

Kyai Muhammad Fakih ini juga disebut juga Kyai Sedo Laut (meninggal di laut) karena sepulang dari tanah suci pada tahun 1757, kapal yang ditumpanginya karam di selat Malaka. Kyai Muhammad Fakih karam di laut, sedang putranyaKH Abdullah terdampar di selat Malaka.

Zaman dulu, di depan masjid dibangun tempat wudhu. Airnya diambil dari sungai Belik yang dialirkan melalui parit. Fungsi kolam selain untuk berwudhu juga berfungsi unuk menghukum orang yang salah dalam memukul kentongan dan beduk, dengan diceburkan di dalam kolam.

Lokasi Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Masjid Taqwa berdiri di atas tanah kesultanan (Sultan Ground) seluas 5000 meter persegi. Luas bangunan masjid saat didirikan adalah 420 meter persegi dan hingga kini telah dilakukan pengembangan sehingga luasnya menjadi 750 meter persegi. Bagian serambi luasnya 250 meter persegi, dan ruang perpustakaan seluas 90 meter persegi, dan halaman seluas 4000 meter persegi.

Wong kalang

Peninggalan Orang Kalang Dijadikan Objek Wisata

source :Berita KBR

Rumah bekas Prawiro Suwarno Tembong, yang merupakan jejak terakhir Wong Kalang di Kota Gede

Rumah bekas Prawiro Suwarno Tembong, yang merupakan jejak terakhir Wong Kalang di Kota Gedehttps://421fbae08010cd8dbab803198b196849.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html?n=0Baca Selanjutnya:Program Makan Siang di Sekolah Terbesar di DuniaX

 Pertarungan penduduk asli dan pendatang kerap kali mengoyak kerukunan di satu wilayah.

Jauh sebelum itu, masa raja-raja tanah Jawa, konflik serupa pernah merobek Kota Gede.

Akibatnya, orang-orang Kalang kala itu tercerai-berai. Mereka meninggalkan rumah kejayaan mereka dan warisan keterampilan perak yang kini jadi ladang uang bagi penduduk asli.

Berikut kisah lengkapnya seperti yang dilansir dari Program Saga produksi KBR.https://421fbae08010cd8dbab803198b196849.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html?n=0

Kisah Prawiro Suwarno Tembong, yang merupakan jejak terakhir orang Kalang di Kota Gede, masih hidup meski sudah seabad lebih berlalu.

Pada sentra perak itu, deretan rumah dengan arsitektur campuran Jawa dan Eropa masih gagah berdiri. Dewi, salah seorang pemandu, menunjuk salah satu rumah Tembong.

“Kalau lihat di beberapa pintu ada ukiran mozaiknya. Kaca patri warna-warni, walaupun sudah ada beberapa yang direnovasi, tapi diperbaikin pintu-pintunya aja. Kita bisa lihat kaca patri warna-warni, pilar-pilar gaya Eropa. Tapi di bawah ada pendopo joglo,” jelas Dewi.https://d-21024209241286684533.ampproject.net/2112231523002/frame.html

Menyaksikan rumah itu, bisa terbayang Prawiro Tembong hidup di sana, dikelilingi perabotan emas bagai Raja Midas.

Pasalnya dulu, Tembong dijuluki Raja Berlian Tanah Jawa sebagai ungkapan untuk menggambarkan betapa kayanya dia.https://d-21024209241286684533.ampproject.net/2112231523002/frame.html

“Karena harta beliau saking banyak sampai punya emas batangan sebesar jerigen minyak tanah. Juga ada hiasan dari emas berbentuk pisang. Semua emas murni,” terang Dewi.

Riwayat Wong Kalang kali pertama ditemukan pada zaman Majapahit.

Catatan lain muncul pada abad ke-17 ketika kedatangan seorang ahli ukir dari Bali, Joko Suroso.

Joko datang ke Kota Gede setelah dipanggil Sultan Agung, yang pada saat itu adalah Raja Mataram.

“Masa kejayaan Mataram, Sultan Agung dari Mataram Islam memanggil Joko Suroso, seorang ahli ukir dari Bali untuk mengukir Keraton Mataram dan membuat desain arsitektur keratin,” kata Dewi.

“Joko ini ternyata jatuh cinta dengan keponakan Sultan. Sultan kemudian kecewa, tapi dia merestui. Syaratnya, mereka enggak boleh kembali ke Kota Gede. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke tempat asal si puteri ini, Banyumas,” tambahnya lagi.

“Sultan Agung bilang ketika kamu di Banyumas, kamu dikalang. Artinya dikunci, ga boleh keluar dari Banyumas. Tapi lama-kelamaan kan mereka beranak-pinak, ya keluar dari Banyumas sampai ke daerah Kroya, Kebumen,” ungkap Dewi.

Selepas Sultan Agung mangkat, keturunan Kalang kembali ke Kota Gede.

Dengan kemahiran mereka berdagang dan mengukir, orang-orang ini justru menjelma menjadi saudagar-saudagar kaya.

Beberapa juga mendirikan rumah gadai. Dari situlah, penduduk asli Kota Gede mencari pinjaman uang.

Nama Tembong yang paling membekas. Selain kisah kekayaannya yang luar biasa, Tembong dikenal eksentrik. Hobinya membagi-bagikan uang dari dalam mobilnya.

“Katanya supaya semua bisa menikmati baik besar kecilnya berapa, tanpa Tembong tahu uang itu didapat oleh siapa. Jadi kalau dulu salah satu cucu beliau bilang kenapa harus dibuang-buang, dia bilang kalau saya bersedekah saya milih orang yang saya senangin saja. Yang enggak saya senang, jadi enggak dapat. Tapi kalau dengan cara ini semua bisa menikmati,” ujar Dewi.

Kebiasaannya itu dianggap arogan. Tapi memang, kalau menyebut nama Tembong kepada para prajurit Belanda dulu, maka boleh jadi mereka akan menyebut si saudagar ini pongah. 

“Beliau yang membuat kontroversi karena ingin membuat salah satu ruangan di rumahnya, lantainya dari koin emas. Gulden. Tapi enggak disetujui sama Belanda. Dianggap menghina Ratu Belanda. Akhirnya boleh bikin, tapi enggak boleh ditidurin. Harus berdiri posisinya,” terang Dewi.

Meski begitu, Tembong banyak membantu Keraton Yogyakarta.

Di masa-masa ketika kondisi keuangan keraton buruk, Tembong sedikit-banyak sering menyumbang. Begitu pula orang-orang Kalang lainnya.

Tapi, hikayat mereka di Kota Gede berhenti ketika pada suatu hari kerusuhan pecah.

Agaknya penduduk asli Kota Gede sudah tidak betah. Mereka merasa menjadi budak di kampung mereka sendiri. Sehari-hari bekerja untuk orang-orang Kalang.

Rumah Tembong dan orang Kalang lainnya diserbu penduduk, dijarah. Para pemiliknya kabur, menyelamatkan diri.

“Orang Kalang, meski mereka membantu menaikan ekonomi, tetapi mereka bukan penduduk asli. Mereka tidak pernah dianggap sebagai pribumi asli. Akhirnya pada waktu itu, timbulah penjarahan dan perampokan besar-besaran,” jelas Dewi.

Nasib Tembong sejak itu simpang siur. Ada yang mengatakan dia kabur bersama orang Kalang lainnya ke Plered. Ada juga yang bilang Tembong mati dibunuh perampok. Kisah lain berakhir dengan Tembong mati bunuh diri.

Dewi sendiri tak berani memastikan.

Kini, rumah dan usaha orang Kalang diambil alih orang-orang asli Kota Gede.

Beberapa rumah sudah alih fungsi menjadi restoran atau galeri. Arsitekturnya tetap dipertahankan yang asli.

Sementara keturunan Kalang kini tersebar di Jogja, Kroya, Banyumas, hingga Cirebon. Kebanyakan kembali berdagang, namun tidak lagi menjual logam mulia atau bebatuan. Dewi mengatakan, kebanyakan dari mereka menjadi pengusaha sukses. Salah satunya pemilik hotel besar di Jogja.

Sejarah singkat kesultanan Mataram Islam.

Sejarah Awal Kesultanan Mataram Islam, Letak, dan Pendiri Kerajaan

Siapa pendiri dan di mana letak Kesultanan Mataram Islam yang merupakan salah satu kerajaan bercorak Islam terbesar di Jawa?

Kesultanan Mataram Islam merupakan salah satu kerajaan bercorak Islam terbesar dalam sejarah Nusantara yang pernah berdiri di Jawa. Lantas, siapa pendiri Mataram Islam dan di daerah mana letak atau lokasi kerajaan ini?

Wilayah Mataram semula merupakan bagian dari Kesultanan Pajang yang melanjutkan garis penerus Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Pusat pemerintahan Kesultanan Pajang berada di Surakarta atau Solo.

Sejak abad ke-16 Masehi, tepatnya tahun 1586, wangsa Mataram di bawah pimpinan Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati berhasil menyatukan beberapa wilayah untuk bersama-sama melakukan perlawanan terhadap Kesultanan Pajang.

Hingga akhirnya, Kesultanan Pajang menyerahkan kekuasaan kepada Panembahan Senapati yang sekaligus menjadi awal riwayat berdirinya kerajaan baru bernama Kesultanan Mataram Islam.

Jauh sebelumnya pada abad ke-8 Masehi, di Jawa juga pernah berdiri Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Hindu-Buddha dan berbeda zaman dengan Kesultanan Mataram Islam. Meskipun demikian, jika ditelusuri lebih rinci, dua kerajaan ini masih terhubung dalam satu garis riwayat nan panjang.

Sejarah Awal Mataram Islam

Riwayat Kesultanan Mataram Islam bermula dari tanah perdikan berupa hutan yang dikenal sebagai alas Mentaok yang diberikan pemimpin Kesultanan Pajang, Sultan Hadiwijaya (1560-1582) atau Jaka Tingkir, kepada Ki Ageng Pemanahan.

Ki Ageng Pemanahan adalah pendiri Wangsa Mataram yang juga ayah dari Panembahan Senapati atau Sutawijaya. Ki Ageng Pemanahan merupakan cucu Ki Ageng Selo yang dipercaya masih memiliki keturunan dari garis raja-raja Majapahit dan Kerajaan Mataram Kuno.

Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai balas jasa karena telah membantu memadamkan perlawanan Arya Penangsang dari Kerajaan Jipang.

Dikutip dari M. C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern1200-2004 (2005), perlawanan terhadap Pajang dimotori oleh Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati yang tidak lain adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan.

Perlawanan tersebut terjadi pada masa pemerintahan Sultan Pajang ke-3, yakni Pangeran Benawa atau Sultan Prabuwijaya (1586-1587). Panembahan Senapati melancarkan perlawanan terhadap Pajang sejak tahun 1578.

Lokasi & Pendiri Mataram Islam

Pada 1584, Panembahan Senapati mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Mataram Islam di alas Mentaok meskipun belum diakui oleh Pajang. Alas Mentaok adalah wilayah yang kini dikenal sebagai Yogyakarta.

Hingga akhirnya, Kesultanan Pajang benar-benar runtuh pada 1587 dan mengakui keberadaan Kesultanan Mataram Islam.

Panembahan Senapati sebagai pendiri pemerintahan Mataram Islam kemudian menobatkan diri sebagai raja atau sultan pertama bergelar Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama (1587-1601).

Adapun lokasi berdirinya Kesultanan Mataram Islam, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, adalah di bekas alas Mentaok, dengan pusat pemerintahannya disebut dengan nama Kutagede atau Kotagede di Yogyakarta.

Keberhasilan Panembahan Senapati memerdekakan Mataram dari cengkeraman Pajang merupakan langkah penting bagi riwayat kesultanan ini di masa-masa selanjutnya hingga mencapai puncak kejayaan.

Kepemimpinan Panembahan Senapati

Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3 (1981) memaparkan, Panembahan Senapati mulai memperluas wilayah kekuasaan Mataram Islam secara masif, terutama di sepanjang Bengawan Solo hingga ke Jawa bagian timur, juga sebagian Jawa bagian barat.

Sejak tahun 1590, berturut-turut Jipang (Solo), Madiun, Kediri, Ponorogo, Jagaraga (Magetan), dan Pasuruan, dapat ditaklukkan. Di kawasan barat, Cirebon dan Galuh (sekitar Ciamis) menjadi bagian dari Mataram Islam pada 1595.

Namun, upaya Panembahan Senapati untuk menguasai Banten pada 1597 gagal lantaran kurangnya transportasi air.

Panembahan Senapati wafat pada 1601 dan dimakamkan di Kota Gede, Yogyakarta. Penerusnya adalah Raden Mas Jolang atau yang kemudian bergelar sebagai Susuhunan Hanyakrawati, ayah dari Sultan Agung.

Kelak, Kesultanan Mataram Islam berhasil menancapkan hegemoni kekuasaan di Jawa dengan wilayah kekuasaan yang amat luas, kekuatan militer yang besar, serta kemajuan di berbagai bidang kehidupan.

Penulis: Alhidayath Parinduri

Museum sejarah purbakala pleret

Ndok ceplok

Sumur Gemuling Kedhaton Pleret Museum purbakala keraton Mataram Islam pleret

SUMUR GUMULING KERATON PLERET

Bangunan ini berwujud sebuah sumur,  yang oleh masyarakat sekitar dulunya disebut sebagai sumur-gumulingSumur Gemuling Pleret sebelum di pugar.

Saya ingat waktu kecil, puluhan tahun silam.
Saat melihat sumur Gemuling Kedhaton teman – teman bilang ” Nek njegur Kono njedule pantai Parangtritis.”artinya, kalau masuk ke sumur Gemuling Kedhaton nanti sampai pantai selatan atau Parangtritis.
Dan cerita itu tersebar entah darimana, nyatanya banyak penduduk sekitar juga percaya hal seperti itu.Aneh-aneh saja,tapi namanya juga anak kecil.

Yang pasti, anak-anak seumuran saya dulu takut untuk nyolong,(mencuri)tebu di sekitar sumur Gemuling itu.
Mending mencuri di daerah lain, bahkan untuk sekedar lewat di sekitarnya saja sambil mengucapkan kalimat-kalimat doa. Saking takutnya melihat sumur yang kelihatan sangat wingit dan angker.Seingat saya,berdoa sak muni- munine sambil lari kalau kebetulan lewat sumur tua tersebut. Muni itu istilah Jawa untuk bersuara atau bicara, atau sejenisnya.

Tapi kondisi sekarang sudah sangat berbeda, sumur yang dulu kelihatan angker sekarang sudah berubah, sudah menjadi museum yang megah dan sangat terawat dengan baik.

Ini salah satu sisa bangunan dari Keraton_Plered yang masih tersisa hingga saat ini, dan di yakini merupakan bagian dari keraton pleret.

Sumur GUMULING ini letaknya ada di komplek museum purbakala yang ada di Pleret.  ada di halaman Museum_Sejarah_Purbakala_Pleret dan letaknya ada di pinggir jalan Raya persis.

Cerita Sejarah yang saya dapatkan, walaupun cerita ini katanya masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut,  dikatakan bahwa dulunya sumur ini merupakan sumur yang dikeramatkan airnya.

Diperkirakan air dari sumur ini dulunya sewaktu keraton pleret masih berdiri digunakan untuk upacara JAMASAN PUSAKA KERATON,  yaitu upacara pencucian segala macam jenis pusaka yang dimiliki oleh Keraton Pleret pada waktu itu.

Selain itu dulunya konon air dari sumur ini mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit,

Dan kabarnya juga air dari sumur ini katanya dulu kadang kadang berubah menjadi asin seperti air laut, karena konon dulu dipercayai bahwa air sumur ini mempunyai semacam kekuatan spritual yang berasal atau berhubungan dengan Laut Selatan.

karena pada waktu itu bahkan sampai saat ini di lingkungan budaya Kesultanan_Mataram,  ( keraton Jogja dan keraton Solo) , kepercayaan terhadap Laut Selatan masih dipercaya dan masih berlangsung sampai saat ini.pakah sumur gumuling ini dulunya memang sebuah sumur yang dikeramatkan….
wallahuaalllam…… hanya penelitian sejarah lah yang kelak akan bisa menjawabnya…

itulah informasi singkat tentang Jejak Sumur Gumuling Keraton Pleret,  jika ada yang mau menambahkan dan mengoreksi saya persilhakan….Sumur Gemuling Pleret sekarang

Lokasi Museum Sejarah Purbakala Pleret.

Museum Sejarah Purbakala Pleret
https://maps.app.goo.gl/g9dtHxy4s71G1oR69Pinggir jalan raya pleret jejeran.

Masjid Kauman pleret Bantul

Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Jogja

Lokasi Situs Masjid Kauman Pleret berada di dusun kauman kelurahan pleret kepanewon pleret kabupaten bantul.

Jarak dari Museum Purbakala ke Situs Masjid Kauman Pleret hanya sekitar 700 meter, mengarah ke Timur (ke kanan), lalu belok ke kiri di Jl Pleret, melewati perempatan, lalu belok kiri lagi sekitar 70 m dari perempatan. Situs Masjid Kauman Pleret berada di sebelah kanan jalan, di samping kanan sebuah masjid.

Suasana sepi ketika saya datang. Tidak ada orang yang bisa diajak berbincang sekitar Situs Masjid Kauman Pleret yang berada di tempat terbuka ini. Masjid yang di sebelah pun sedang sepi, belum waktunya sholat. Kami pun lalu berjalan masuk ke dalam area situs, melihat bekas-bekas ekskavasi, dan mengambil beberapa buah foto.

Bangunan  berpagar besi beratap seng semacam ini terlihat ketika saya memasuki area Situs Masjid Kauman Pleret.

Salah satu kotak ekskavasi di Situs Masjid Kauman Pleret yang memperlihatkan susunan bata, serta ada semacam saluran air di sisi sebelah kanan. Tidak ada keterangan di tempat mengenai kotak galian ini, demikian juga di kotak-kotak galian yang lain.

Catatan tentang kotak-kotak galian itu sepertinya lengkap, setidaknya jika membaca tulisan Tata Ruang Masjid Kauman Pleret.

Akan sangat bermanfaat bagi pejalan jika dibuatkan keterangan di setiap lubang galian itu. Jika pun tidak ada dana untuk membuat tengara yang baik, cukup mencetaknya di atas sehelai kertas, melaminasinya, dan menggantungkannya di tepi atau tengah lubang, saya kira sudah sangat membantu.

Lubang-lubang ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret rata-rata berpagar dan ditutup dengan cungkup beratap seng yang sudah jauh lebih baik ketimbang, misalnya Situs Tondowongso di Kediri yang dibiarkan terbuka, terbengkalai menyedihkan.

Susunan batu bata berwarna keputihan di sebuah kotak lubang ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret. Penelitian dan penggalian yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIY, Balai Arkeologi Yogyakarta, BP3 DIY dan Jurusan Arkeologi UGM pada rentang waktu 2003 – 2010 itu untuk mengungkap struktur Masjid Kauman Pleret, atau Masjid Agung Pleret, yang didirikan Amangkurat I (memerintah Kerajaan Mataram Islam pada 1646-1677).

Amangkurat I adalah anak Sultan Agung Hanyokrokusumo,atau cucu Panembahan Senopati. Namun berbeda dengan sifat ayahnya yang menentang Belanda dan dikenal arif bijaksana, Amangkurat I memiliki sifat yang bengis, telengas, dan suka mengumbar hawa nafsu, serta menjalin hubungan dengan Belanda, karenanya dibenci rakyat dan kerabatnya sendiri, sehingga banyak terjadi pergolakan dan pemberontakan semasa pemerintahannya.

Amangkurat I memindahkan Keraton Mataram Kerto yang didirikan oleh Sultan Agung ke daerah Pleret, namun tidak ada lagi sisa-sisa bangunan keraton yang diserbu dan didukuki oleh Trunojoyo pada 1677 itu. Meskipun bangunan keraton dan Masjid Kauman Pleret tidak dihancurkan oleh Trunojoyo dan pengikutnya, namun karena Amangkurat II memindahkan keraton ke Kartosuro, serta berbagai pergolakan terjadi setelah itu, seperti perang Diponegoro, kemudian perang Pasifik, ditambah bencana alam seperti gempa bumi, maka baik bangunan keraton tidak lagi berbekas, dan Masjid Kauman Pleret nyaris rata dengan tanah.

Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Jogja
Area ekskavasi terbesar di Situs Masjid Kauman Pleret di bawah naungan atap seng tinggi dan luas. Terlihat susunan bata cukup tinggi di sebelah kiri yang diduga sebagai reruntuhan mihrab Masjid Kauman Pleret. Terlihat pula sebuah umpak (landasan tiang) yang berukuran cukup besar.

Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Jogja
Pada area ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan saluran air yang diduga berada di depan masjid, atau mengelilinginya, sebagaimana parit yang ada di Masjid Besar Mataram di Kotagede.

Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Jogja
Salah satu umpak yang dibiarkan berada di area terbuka Situs Masjid Kauman Pleret. Ada 23 umpak yang telah ditemukan di Situs Masjid Kauman Pleret ini, dari seluruhnya 36 umpak yang diduga menjadi penopang bangunan masjid. Dari temuan yang ada, Masjid Kauman Pleret diduga tidak memiliki serambi.

Pada penggalian tahun 2010 di situs Masjid Kauman Pleret ini ditemukan bilah keris kuno, potongan tulang, gigi binatang, serta tiga fragmen keramik Cina dari Dinasti Ming dan fragmen jenis keramik Eropa serta gerabah.

Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Jogja
Pandangan penuh pada area penggalian terbesar di Situs Masjid Kauman Pleret. Akan sangat bermanfaat jika dibuat tengara di setiap bagian penting, misalnya pada mihrab, saluran air, dan umpak. Pengunjung membutuhkan cerita, dan cerita itulah yang akan dikabarkan ketika mereka pulang.

Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Jogja
Spanduk kecil ini merupakan satu-satunya tengara yang ada di Situs Masjid Kauman Pleret. Lumayan, karena setidaknya tengara ini memberi tahu nama resmi situsnya, dengan sedikit gambaran latar belakangnya.

Peninggalan selalu menarik buat saya untuk dikunjungi, meskipun hanya berupa reruntuhan yang tidak ada keindahannya sama sekali. Itu karena peninggalan adalah penghubung masa kini dan masa silam, yang kelam maupun yang gemilang, yang kadang membuat kita merenung dan mungkin bisa belajar sesuatu darinya.

Masjid Pathok Negoro

Masjid Pathok Negoro Sebagai Pilar Kasultanan Yogyakarta

Keberadaan masjid menjadi salah satu pilar bagi berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Selain Masjid Gedhe yang berada di pusat pemerintahan, Kasultanan Yogyakarta juga membangun masjid di empat penjuru mata angin. Keempat masjid ini disebut sebagai Masjid Pathok Negara.

Secara makna kata, pathok berarti sesuatu yang ditancapkan sebagai batas atau penanda, dapat juga berarti aturan, pedoman ,atau dasar hukum. Sementara negara berarti negara, kerajaan, atau pemerintahan. Sehingga pathok negarabisa diartikan juga sebagai batas wilayah negara atau pedoman bagi pemerintahan negara.

Secara lokasi, posisi Masjid Pathok Negara berada di wilayah pinggiran Kuthanegara, tepat berada di perbatasan wilayah Negaragung. Kuthanegara dan Negaragung adalah sistem pembagian hirarki tata ruang dalam wilayah kerajaan Mataram Islam. Jika wilayah Kuthanegara adalah tempat dimana pusat pemerintahan berada, maka Negaragung adalah wilayah inti kerajaan yang berfungsi sebagai pelingkup atau penyangga pusat pemerintahan.

Pathok negara juga merupakan nama jabatan Abdi Dalem di bawah struktur Kawedanan Reh Pangulon. Abdi Dalem Pathok Negara adalah Abdi Dalem yang menguasai bidang hukum dan syariat agama Islam. Para Abdi Dalem ini diberi wilayah perdikan dan ditugasi mengelola masjid di wilayah tersebut, termasuk memberikan pengajaran/pendidikan keagamaan kepada masyarakat yang berada di sekitar bangunan masjid.

Secara keseluruhan Masjid Pathok Negara memiliki fungsi sebagai pusat pendidikan, tempat upacara/kegiatan keagamaan, bagian dari sistem pertahanan, sekaligus bagian dari sistem peradilan keagamaan yang disebut juga sebagai Pengadilan Surambi. Pengadilan ini memutus hukum perkara pernikahan, perceraian atau pembagian waris. Sementara untuk hukum yang lebih besar (perdata atau pidana) diputus di pengadilan keraton.

Keempat Masjid Pathok Negara dibangun di masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Masjid-masjid ini meliputi Masjid Jami’ An-nur di Mlangi (Barat), Masjid Jami’ Sulthoni di Plosokuning (Utara), Masjid Jami’ Ad-Darojat di Babadan (Timur), dan Masjid Nurul Huda di Dongkelan (Selatan).

Masjid An-Nur Mlangi

Masjid ini didirikan seiring dengan berdirinya daerah atau dusun Mlangi yang sekarang berada di wilayah Nogotirto, Gamping, Sleman sekira tahun 1758 oleh Kyai Nur Iman setelah mendapat tanah perdikan dari Sultan Hamengkubuwana I. Saat ini pengelolaan masjid An-Nur dilakukan oleh masyarakat sekitar tetapi pihak keraton Yogyakarta tetap menempatkan abdi dalem pathok negara di masjid ini sebagai salah satu penanda bahwa masjid tersebut adalah Kagungan Dalem.

Masjid Sulthoni Plosokuning

Masjid Plasakuning atau Plosokuning yang berada di wilayah Desa Minomartani, Ngaglik, Sleman, ini dibangun sebelum keraton Yogyakarta berdiri. Masjid ini didirikan oleh Kyai Mursodo, yang merupakan anak dari Kyai Nur Iman Mlangi. Kyai Nuriman merupakan saudara dari Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Sesaat setelah membangun Keraton serta Masjid Gede Kauman, Sri Sultan Hamengkubuwono I memindahkan Masjid Ploso Kuning ke tempat yang saat ini menjadi lokasi Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning.

Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning dipindah dan dibangun ulang setelah pembangunan Masjid Gede Kauman. Sehingga bentuk masjid tersebut meniru Masjid Gede Kauman. Terlihat dari model tumpang dan mahkota di atasnya. Ciri khas masjid plosokuning ini adalah adanya kolam yang mengelilingi masjid untuk membasuh kaki karena untuk menyesuaikan kebiasaan masyarakat waktu dahulu yang beraktivitas sehari-hari tanpa alas kaki.

Masjid Ad-Darojat Banguntapan

Masjid Jami’ Ad-Darojat terletak di desa Banguntapan, kecamatan Banguntapan, kabupaten Bantul. Masjid yang dibangun pada tahun 1774 ini pernah mengalami penggusuran pada tahun 1943 karena lokasi masjid pada saat itu akan digunakan untuk perluasan pangkalan udara tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka masjid ini dibangun kembali di lokasi yang sama pada tahun 1960.

Masjid Nurul-Huda Dongkelan

Masjid ini terletak di wilayah Kauman, Dongkelan. Secara administratif, berada di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Masjid yang dibangun oleh Kyai Sihabudin pada tahun 1775 ini pernah dibakar oleh Belanda pada masa Perang Diponegoro karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya para pejuang pengikut Diponegoro. Lalu, pada awal abad 20, masjid itu diperbaiki bangunannya oleh Sultan Hamengku Buwono VII.

Masjid Taqwa Wonokromo

Masjid Taqwa merupakan yang terbesar di antara masjid-masjid pathok negara yang lainnya. Ini adalah masjid satu-satunnya yang bukan merupakan penjaga mata angin. Pendirian Masjid Taqwa tidak dapat dipisahkan dari tokoh bernama Kyai Mohammad Fakih. Dia adalah seorang guru agama Islam yang bertempat tinggal di Desa Ketonggo. Kyai Mohammad Fakih juga dikenal senang membuat welit (atap rumbia) yang terbuat dari daun ilalang, bukan dari daun tebu. Hal inilah yang menyebabkan dirinya memiliki nama lain “Kyai Welit”.

Suatu saat, Sri Sultan Hamengku Buwono I hendak menemui Kyai Mohammad Fakih untuk ngangsu kawruh (menuntut ilmu). Awalnya, Kyai Mohammad Fakih merasa keberatan karena pada prinsipnya dia hanya memberikan ilmu kepada murid-muridnya saja. Sri Sultan Hamengku Buwono I lantas menyamar sebagai utusan sultan untuk menemui Kyai Mohammad Fakih. Penyamarannya itu tidak diketahui oleh Kyai Mohammad Fakih dan permintaannya sebagai murid dikabulkan karena niatnya yang sungguh-sungguh. Ketika sedang menuntut ilmu, Sri Sultan Hamengku Buwono I yang menyamar meminta nasihat kepada Kyai Mohammad Fakih mengenai tatanan kerajaan yang baik.

Kyai Mohammad Fakih menjelaskan bahwa sultan harus melantik pathok, yaitu orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak para rakyatnya. Pathok-pathok inilah di kemudian hari dianugerahi tanah perdikan. Selain itu, Kyai Mohammad Fakih juga memberikan saran agar sultan juga melantik kenthol (kepala desa), yang karena tugasnya diberikan tanah pelungguh. Sri Sultan Hamengku Buwono I yang melakukan penyamaran selanjutnya meminta izin kepada Kyai Mohammad Fakih kembali ke kasultanan untuk menyampaikan saran-saran tersebut. Sri Sultan Hamengku Buwono I akhirnya melantik dan membuat pathok-pathok yang ditempatkan di Mlangi, Plosokuning, Babadan, Gedongkuning, Ringinsari Gethan, Demak Ijo, Klegum, Godean, dan Jumeneng.

Sebagai ungkapan rasa syukur, Sri Sultan Hamengku Buwono I mengutus para pengawalnya untuk menjemput Kyai Mohammad Fakih di Desa Ketonggo dan Ki Derpoyudo di Laweyan, Surakarta agar melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Yogyakarta. Setelah melaksanakan salat Jumat, Sri Sultan Hamengku Buwono I melakukan pertemuan dengan keduanya untuk membahas tatanan kerajaan. Saat itulah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengakui bahwa dirinya pernah menyamar sebagai utusan agar bisa menjadi murid Kyai Fakih Mohammad. Selain itu, Ki Derpoyudo juga memberikan keterangan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I bahwa Kyai Fakih Mohammad putra menantu dari anak sulungnya. Dengan kata lain, Kyai Mohammad Fakih adalah kakak ipar dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, sebab Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah menantu Ki Derpoyudo dari putrinya yang kedua. Sejak saat itulah, Sri Sultan Hamengku Buwono I begitu welas asih kepada Kyai Mohammad Fakih. Selain sebagai kakak iparnya, dia juga menjadi gurunya. Hal inilah yang menyebabkan Kyai Mohammad Fakih dipanggil ngabiyantoro (menghadap ke keraton).

Pada 1701, Kyai Mohammad Fakih dilantik menjadi kepala pathok dengan candrasengkala Nyata Luhur Pendhita Ratu dan dianugerahi tanah perdikan di sebelah selatan Ketonggo yang berupa hutan. Dikarenakan hutan tersebut banyak ditumbuhi pohon awar-awar, maka daerah tersebut disebut dengan alas awar-awar. Tanah anugerah Sri Sultan Hamengku Buwono I yang masih berwujud hutan awar-awar itu kemudian dibuka dan didirikanlah sebuah masjid di tempat tersebut dengan nama Masjid Taqwa. Setelah selesai dibangun, Kyai Mohammad Fakih menghadap kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk menyampaikan laporan bahwa di atas tanah perdikan tersebut sudah didirikan sebuah masjid. Atas amanat dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, daerah itu diberi nama Wana Karoma, yang berarti “supaya benar-benar mulia”.

Selanjutnya, pada tahun 1702-1705 Sri Sultan Hamengku Buwono I berniat menunaikah ibadah haji, namun karena keadaan kasultanan belum begitu aman, dia mengutus Kyai Mohammad Fakih ke Mekah untuk menghajikannya. Kyai Mohammad Fakih mukim selama dua tahun di Mekah karena pada tahun pertama dia menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri dan pada tahun kedua dia menunaikan ibadah haji untuk Sri Sultan Hamengku Buwono I. Kyai Fakih Mohammad juga memiliki sebutan “Kyai Sedo Laut” karena dia meninggal di laut sepulang dari tanah suci pada tahun 1757. Kapal yang ditumpanginya karam di Selat Malaka.

Ukiran-ukiran ayat suci yang berada di sepanjang bangunan masjid ini memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Kotagede dan Masjid Kauman. Para warga yang berada di sekitar Wonokromo meyakini bahwa masjid ini merupakan salah satu dari sekian masjid yang dinamakan Masjid Tiang Negara. Masjid tiang negara ini memiliki pengertian bahwa masjid tersebut berfungsi sebagai simbol kekuatan negara (Kerajaan Mataram).

Makam Ratu malang gunung kelir Pleret bantul.

Cinta Amangkurat 1

Amangkurat 1 menunjukkan kecenderungan berlebihan saat mencintai Ratu Malang. Demi perasaan cintanya itu, dia bahkan tega mengabaikan urusan negara.

Makam Ratu Malang (kebudayaan.kemdikbud.go,id)

CINTA Amangkurat 1 kepada perempuan satu ini begitu dalam. Pesonanya  yang memikat hingga menyebabkan Amangkurat 1 rela melakukan berbagai cara demi memperistrinya.

Kisah keduanya bahkan terlukiskan dalam berbagai narasi tradisional dan sumber-sumber Belanda.

J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijskroniek menyebut pertemuan pertama raja dengan perempuan pujaannya itu terjadi saat ia mengeluarkan titah mencari seorang perempuan untuk diperistri. Amangkurat 1 lalu diperkenalkan oleh Pangeran Blitar dengan putri Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog terkemuka.

Parasnya yang amat cantik langsung memikat hati sang raja. Ia pun segera mempersiapkan segala keperluan untuk mempersuntingnya. Namun sayang perempuan ini telah menikah dengan Kiai Dalem (Ki Dalang Panjang Mas), yang berprofesi sama dengan ayahnya. Ia pun sedang mengandung dua bulan dari hasil pernikahannya itu.

Meski demikian, Amangkurat 1 tetap bersikukuh memboyong perempuan tersebut ke istana. Raja lalu memberikan gelar “Ratu Wetan” kepadanya. Ratu baru ini disebut-sebut merusak rumah tangga di kerajaan.

Peneliti HJ De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram menyebut meski tidak membuat raja melupakan istrinya yang lain, perhatiannya jadi lebih banyak dialihkan kepada istri barunya ini. “Itulah sebabnya ia disebut orang Ratu Malang (yaitu yang melintang di jalan)”.

Sekitar tahun 1649, putra Ratu Malang dari pernikahan sebelumnya lahir. Meski bayi itu darah daging Kiai Dalem, Amangkurat 1 tidak sedikitpun kehilangan cintanya. Setelah kelahiran putra tirinya, demi menghindari masalah  yang tidak diinginkan, raja mengeluarkan perintah untuk membunuh Kiai Dalem.

Di dalam teks Babad Tanah Jawi, saat akan memperistri Ratu Malang, Amangkurat 1 disebut secara paksa merebut perempuan itu dari tangan suaminya. Maka tidak heran jika ia ingin melenyapkan pria yang sangat dicintai istrinya itu.

Namun menurut catatan pemerintah Belanda, Daghregister 1677, yang didapat dari penuturan salah seorang pengawal istana, Kiai Dalem tidak meninggal karena dibunuh Amangkurat 1 melainkan meninggal secara wajar. Kemudian setelah menjadi janda, wanita itupun dipersunting oleh raja. De Graaf meragukan pernyataan yang kedua ini. Menurutnya Amangkurat I telah melakukan dosa yang terlalu banyak, sehingga cara pertama bukanlah sesuatu yang mengherankan.

“Karena perbuatan jahat Sunan Mangkurat memang sudah terlalu banyak, maka tidak ada gunanya lebih mementingkan cerita tutur yang belakangan daripada berita pejabat istana yang lebih dahulu dan selayaknya lebih dapat dipercaya,” tulis De Graaf.

Mengetahui Kiai Dalem tewas dibunuh Amangkurat 1, Ratu Malang menangis siang dan malam. Ia sangat meratapi kematian pria yang pernah jadi suaminya itu. Ia pun lalu jatuh sakit dan meninggal tidak lama kemudian. Namun raja melihat ada kejanggalan dalam kematiannya. Karena sebelum meninggal sang ratu mengeluarkan banyak cairan dari dalam tubuhnya, seperti gejala keracunan.

Amangkurat 1 yang murka segera menyeret dayang-dayang dan pelayan istana yang selama beberapa waktu dekat dengan Ratu Malang. Ia curiga ada orang yang sengaja membunuh ratunya itu karena raja mulai mempertimbangkan untuk memberikan takhta kepada putra Ratu Malang yang bahkan bukan darah dagingnya.

“Dapat dimengerti bahwa Sunan curiga ketika istrinya meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala aneh.

Ia menjadi risau sendiri terhadap hal-hal remeh. Andai kata peracunan yang menjadi penyebab maka si pelaku tentunya harus dicari di kalangan terdekat si korban, yaitu para dayang yang pernah sekali berkomplot dengan Putra Mahkota pembangkan itu (Pangeran Dipati) untuk melawan raja,” ucap De Graaf.

Akibat kecurigaan itu, Amangkurat I mulai berlaku liar. Thomas Stanford Raffles dalam karya fenomenalnya History of Java menggambarkan bagaimana raja amat marah kepada dayang-dayangnya. “… raja mengurung 60 orang dayang-dayang istrinya di dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua”.

Kematian Ratu Malang menjadi pukulan yang amat berat bagi Amangkurat 1. Dalam laporan pejabat Belanda, raja sampai tidak bisa menjalankan pemerintahannya dengan baik hingga 4-5 tahun setelahnya. Bahkan saat pejabat tinggi negeri Belanda berkunjung ke Mataram, Amangkurat 1 tidak hadir menyambut utusan itu. Sambil menjelaskan keadaannya, para menteri kerajaan sementara menggantikan tugas-tugas sang raja.

Jenazah sang ratu dibawa ke Gunung Kelir untuk dipusarakan. Dalam bukunya, De Graaf menyebut kalau selama beberapa hari liang lahat Ratu Malang tidak ditutup atas permintaan raja. Siang dan malam sambil membawa serta putranya, Amangkurat 1 diam di dekat makam itu meratapi tubuh perempuan pujaannya yang telah terbujur kaku. Kepergian raja menimbulkan kekacauan di keraton. Keluarga dan pejabat kerajaan terus berusaha membujuknya agar kembali pulang.

“Suatu malam Sunan mendengar dalam mimpinya bahwa Ratu Malang telah menemani kembali suaminya, Kiai Dalem. Setelah terbangun, dilihatnya jenazah Ratu Malang sudah tidak berbentuk manusia lagi. Setelah itu ia kembali ke keraton dan dengan marah diperintahkannya agar menutup liang lahat. Setelah itu suasana kembali tenang,” tulis De Graaf.

Menteri negeri Belanda Francois Valentijn juga sampai membuat sebuah tulisan, dalam Oud en Nieuw Oost-Indien, yang menggambarkan keadaan Amangkurat I pasca ditinggalkan Ratu Malang.

“Ketika wanita itu pada suatu waktu meninggal, Sunan menjadi sedemikian sedihnya sehingga ia mengabaikan masalah kerajaan. Setelah pemakaman istirnya, diam-diam ia kembali ke makam tanpa diketahui seorang pun. Begitu kasihnya kepada wanita itu sehingga ia tidak dapat menahan diri, dan turut mebaringkan dirinya di dalam …

Sumur Gemuling Kedhaton Pleret Museum purbakala keraton Mataram Islam pleret

https://oncorblarax.art.blog/

SUMUR GUMULING KERATON PLERET

Bangunan ini berwujud sebuah sumur,  yang oleh masyarakat sekitar dulunya disebut sebagai sumur-gumulingSumur Gemuling Pleret sebelum di pugar.

Saya ingat waktu kecil, puluhan tahun silam.
Saat melihat sumur Gemuling Kedhaton teman – teman bilang ” Nek njegur Kono njedule pantai Parangtritis.”artinya, kalau masuk ke sumur Gemuling Kedhaton nanti sampai pantai selatan atau Parangtritis.
Dan cerita itu tersebar entah darimana, nyatanya banyak penduduk sekitar juga percaya hal seperti itu.Aneh-aneh saja,tapi namanya juga anak kecil.

Yang pasti, anak-anak seumuran saya dulu takut untuk nyolong,(mencuri)tebu di sekitar sumur Gemuling itu.
Mending mencuri di daerah lain, bahkan untuk sekedar lewat di sekitarnya saja sambil mengucapkan kalimat-kalimat doa. Saking takutnya melihat sumur yang kelihatan sangat wingit dan angker.Seingat saya,berdoa sak muni- munine sambil lari kalau kebetulan lewat sumur tua tersebut. Muni itu istilah Jawa untuk bersuara atau bicara, atau sejenisnya.

Tapi kondisi sekarang sudah sangat berbeda, sumur yang dulu kelihatan angker sekarang sudah berubah, sudah menjadi museum yang megah dan sangat terawat dengan baik.

Ini salah satu sisa bangunan dari Keraton_Plered yang masih tersisa hingga saat ini, dan di yakini merupakan bagian dari keraton pleret.

Sumur GUMULING ini letaknya ada di komplek museum purbakala yang ada di Pleret.  ada di halaman museum-sejarah-purbakala-pleret dan letaknya ada di pinggir jalan Raya persis.

Cerita Sejarah yang saya dapatkan, walaupun cerita ini katanya masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut,  dikatakan bahwa dulunya sumur ini merupakan sumur yang dikeramatkan airnya.

Diperkirakan air dari sumur ini dulunya sewaktu keraton pleret masih berdiri digunakan untuk upacara JAMASAN PUSAKA KERATON,  yaitu upacara pencucian segala macam jenis pusaka yang dimiliki oleh Keraton Pleret pada waktu itu.

Selain itu dulunya konon air dari sumur ini mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit,

Dan kabarnya juga air dari sumur ini katanya dulu kadang kadang berubah menjadi asin seperti air laut, karena konon dulu dipercayai bahwa air sumur ini mempunyai semacam kekuatan spritual yang berasal atau berhubungan dengan Laut Selatan.

karena pada waktu itu bahkan sampai saat ini di lingkungan budaya Kesultanan_Mataram,  ( keraton Jogja dan keraton Solo) , kepercayaan terhadap Laut Selatan masih dipercaya dan masih berlangsung sampai saat ini.pakah sumur gumuling ini dulunya memang sebuah sumur yang dikeramatkan….
wallahuaalllam…… hanya penelitian sejarah lah yang kelak akan bisa menjawabnya…

itulah informasi singkat tentang Jejak Sumur Gumuling Keraton Pleret,  jika ada yang mau menambahkan dan mengoreksi saya persilhakan….Sumur Gemuling Pleret sekarang

Lokasi Museum Sejarah Purbakala Pleret.

Museum Sejarah Purbakala Pleret
https://maps.app.goo.gl/g9dtHxy4s71G1oR69Pinggir jalan raya pleret jejeran.