Rejeki wes ono sing ngatur.

Di depan  kios barat jembatan tempat gembus mangkal tiap pagi,kelihatan sedang ada transaksi yang serius.

“Bayaren sangang puluh wae,babon waris tur lemu,” jare Gembus pada Si koder yang seprofesi denganya, ya, dia juga bakul pitek.

“Sewidak wae,lehmu tuku ming seket tho,ben aku oleh turahan,wingi aku bar tuku yo ming sewidak tur luweh gede” tawar Si Koder.

“Wa,haiyo raoleh saiki pitek lagi angel je,tur nek wingi bedo kasus,lehmu tuku langsung wong adol,sak mono kui ki ben kowe oleh bathi je.” jawab gembus.

“Rasah angel-angel,podho-podho le bakul ki…!!,mau jane seng ngendek (manggil) bocahe sing adol ki aku,ning mandekke pas ning ngarepmu,kono gari ngemplok.”ucap koder agak mbesengut.

“Yo ora ngono,jenenge rejeki ki marani sing rep mangan,turno biasane kowe yo ora mangkal ning kene kok.”jawab gembus dengan nada agak tinggi.

“Mbok wong ki sithik eding,aku ki yo golekke turahan.”kali ini Si koder suaranya lebih tinggi dari gembus.

“Nek gelem mbayaro pitung puluh ragelem youwes,rasah mbethem.”ucap gembus sambil duduk dan mlengos tanpa menatap si koder.

Tanpa senyum.Si koder dengan suara yang sedengan (tak terlalu tinggi , namun juga kurang pantas dikatakan pelan),

“Nyoh.” Si koder sambil mengulungkan uang biru dan hijau,lalu pergi dengan ayam babon yang baru di belinya dari gembus.

Saya tak tahu persis maksud omongan mereka, tapi yang jelas, saya mudeng mereka sedang menyinggung etika dol tinuku sesama bakul.

Memang sepengetahuanku tadi.Si koder lah yang memanggil atau mbengoki bocah penjual ayam tersebut saat motor blombongan melaju dengan cepat,tetapi suara knalpotnya masih kalah banter dengan suara bengokan si koder tadi, sehingga bocah tersebut mak jegagik kaget lalu ngerem mendadak dan berhenti.Tetapi berhentinya ndilalah tepat di depan gembus,terus di rembuki (ayamnya di beli gembus) ,sing njaring koder sing nompo iwake gembus,mungkin itu yang membuat Si kodir nggonduk.

“Kok ndingaren Si koder le mangkal ning kene,biasane lakyo ning lapangan cerak pasar tho lek ?,”tanyaku ke gembus.

“Ha mbuh,pindah neng kene yo rapopo,malahane.”jawabnya sambil nyengenges.

“Opo ora marai congkrah nek modele rebut-rebutan dagangan koyo Iki mau.”

“Biasa.Tergantung, kadang yo perkoro cocok-cocokan,uwong ki kadang ono seng nyenengke tur yo ono seng nggapleki je.”

“Maksute ?.”

“Wong bebakulan ki kabeh yo podo nggolek pangane,podo nyadong rejekine.”

“Berarti nek ono bakul liyo mangkal ning kene kan podo wae kui tetep jenenge saingan tho lek.”

“Ngonokui udu saingan,tapi konco bisnis,mbuh kuwi nyenengke opo ora,sing penting podo oleh pangane,arepo koder ki nyebai ning keno dinggo dalan rejeki,nyatene daganganku langsung dadi duwit,cobo koder ora ning kene,rakyo aku ndadak gowo neng pasar,ider golek pembeli tho?.Kesuen ngguwak wektu,kadang nek pas duwitku kurang nggo mbayari isoh nyileh rasah perlu muleh,Wes tho, Rejeki ki wes ono singngatur.”

Gembus ngecuprus babagan pengalamannya jadi bakul ayam. Bocahe ketoke gek serius tenan ngomonke pengalamane. 

“Wah,mantep yen ngono lek.Sedinone oleh hasil piro lek?.” tanyaku kepo.

“Ora mesti, jenenge we adang-adang.Tapi yo Alhamdulillah isoh nguliahke anakku ngasi lulus.” gembus.

Kadang apa yang kita lihat tidak sesuai dengan prasangka kita.Ketika melihat wong adang-adang pitek yang duduk-duduk di tempat mangkal itu rasane mesakke.Kadang bertanya apa ya bisa dapat duwit,apa daganganya laku.Benar bahwa ini adalah perasaan iba. Perasaan yang konon sangat tipis batasnya dengan kesombongan, sebab saya merasa lebih mampu dan lebih makmur ketimbang di penjual ayam.Tetapi setelah lek gembus bilang bahwa dari hasil jualannya bisa menyekolahkan anaknya dengan biaya yang tidak ringan,bahkan kuliah hingga lulus seketika itu saya merasa tidak ada apa-apanya dengan lek gembus.

Minuman camcau yang sentimentil.

Setiap hari raya Idul Fitri,biasanya kami punya tradisi Unik di rumah mbah si bhol. Namanya Hasbullah saya memanggilnya Pak tuo ,kadang pak wo. Ia adalah kakek saya.

Pak wo  tinggal di sebuah rumah petak persis di samping rumah saya. Pak wo selalu menjadi orang yang selalu saya datangi, setelah ibu saya, bapak saya, yang saya sungkemi untuk meminta maaf saat lebaran.

Saya punya semacam tradisi unik di rumah Mbah si bhol. Di rumahnya, saat lebaran, dari sekian banyak kudapan di ruang tamunya yang sangat sederhana, ia selalu menyediakan minuman camcau. Ya, tentu saja “camcau”,ini buatan anak-anaknya atau lek saya.

Tape ketan, dan minuman camcau mbah si bhol , selalu menjadi hidangan yang sederhana namun spesial setiap lebaran.

Selama hampir sepuluh tahun terakhir, saya  selalu menjadi orang yang mereyen tape dan minuman camcau itu, yang sudah menjadi ciri khas di rumah pak wo setiap lebaran. Camcau yang berwarna hijau tua bertekstur kenyal dan lembut menyerupai jelly, sangat lembut.Bukan cincau modern yang model kotak-kotak.

Saking seringnya, Pak wo sampai hafal kebiasaan saya itu. Saya tak ubahnya seperti seorang petugas quality control untuk camcau yang disediakan pak wo.

Tetapi rupanya, sekarang orang sudah jarang yang menyajikan minuman camcau,karena mungkin ribet cara membuatnya,lebih praktis dengan membeli minuman semacam orson atau sirup marjan.

Ketika silaturrahmi ke tetangga,ternyata masih ada yang menyajikan minuman camcau.Begitu melihat minuman camcau tersebut ,ingatan saya langsung tertuju pada pak wo.

Lebaran tahun ini menjadi lebaran yang sangat berbeda. Bukan karena situasi perekonomian yang sedang lesu, tapi karena tahun ini, saya tak akan mereyen minuman camcau di rumah Pak wo.Padahal saya masih bisa menemukan minuman camcau di tempat lain, meskipun resep dan cara membuatnya sama tetapi saya merasakan itu tetap saja berbeda.Dan begitu pula lebaran di tahun-tahun berikutnya.

Mbah Hasbullah meninggal sekitar setengah tahun lalu diusia sekitar hampir seratus tahun. Rumah Mbah si bhol kini kosong. Dan tak akan pernah lagi ada minuman camcau dan tape ketan berbungkus daun pisang di meja ruang tamunya untuk saya cicipi.Tidak akan ada lagi simbah yang selalu semangat ketika menceritakan kisah hidupnya di jaman Belanda, Jepang dan pasca kemerdekaan.

Aneh sekali. Memandangi minuman camcau di dalam gelas rasanya tak pernah sesentimentil ini.

Khushuushon ilaa ruuhi ………Mbah Hasbullah……………Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, lahul faatihah.

Foto lawasan.

Koleksi foto lawas.

Dari pada foto ini saya simpan sendiri lebih baik saya upload di sini, siapa tau bisa bermanfaat dan bisa langsung anda download untuk kenangan.


New day has come

Kita butuh masa lalu untuk memperbaiki masa depan.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed vitae massa eu nisi vulputate congue ut a tellus. Proin accumsan purus et dui venenatis, malesuada fermentum sem efficitur. Sed dignissim tristique congue. Vestibulum neque augue, varius id finibus vel, cursus eget arcu. Aliquam at nulla diam. Integer faucibus, libero at lacinia sollicitudin, elit nisi iaculis velit, non malesuada ante est vel ex. Phasellus id feugiat leo. Donec quis tortor dolor.


Galery foto lawas

Menyimpan foto kenangan jaman dahulu dan klasik.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed vitae massa eu nisi vulputate congue ut a tellus. Proin accumsan purus et dui venenatis, malesuada fermentum sem efficitur. Sed dignissim tristique congue. Vestibulum neque augue, varius id finibus vel, cursus eget arcu. Aliquam at nulla diam. Integer faucibus, libero at lacinia sollicitudin, elit nisi iaculis velit, non malesuada ante est vel ex. Phasellus id feugiat leo. Donec quis tortor dolor.

IMG_20140829_062344Download


Bulan Ramadan di kampung.

Kebiasaan anak anak di bulan Ramadhan

Ada yang bilang puasa itu memang bulannya anak-anak. Seperti yang sudah kamu tahu, di masa inilah bocah-bocah seolah mendapatkan hadiah besar dengan mengalami bertubi-tubi kesenangan yang jarang didapatkan di luar bulan puasa. Ya, kamu mungkin masih ingat betapa momen masa kecil di bulan ini adalah hal yang sangat menyenangkan.

Kalau orang dewasa pasti sudah keliyengan mikirin belanja Ramadan dan lebaran, kalau anak-anak sih tinggal menikmati momen aja dengan cara mereka sendiri. Entah menghabiskan waktu seharian dengan bermain atau apa pun. Dan asyiknya lagi, pas puasa ini biasanya hari liburnya lamaaaa sekali. Bahkan di masa pandemi Corona ini, sekolah prei / libur terus.

Nah, sambil menunggu buka nih, yuk nostalgia dengan mengenang asyiknya masa kecil dulu di saat Ramadan seperti sekarang. Simak ulasannya berikut.

1. Jalan-Jalan Setelah Subuhan Hukumnya Wajib
Anak-anak dulu emang tahu banget cara untuk menghabiskan waktu di bulan puasa. Salah satunya adalah mengawali hari dengan jalan-jalan subuh. Taruhan deh kalau kamu pun pernah melakukan aktivitas ini, kan?

Asyiknya acara ini tentu saja karena bersama-sama anak-anak lainnya. Sepanjang jalan dihabiskan dengan cerita banyak hal, mulai Kotaro Minami yang sudah bisa jadi RX Bio sampai cerita game-game PS 1. Acara jalan-jalan ini juga nggak bakal membosankan karena akan selalu ada aksi-aksi spontanitas jahil yang dilakukan. Entah memencet bel rumah orang-orang sampai dikejar anjing. Pokoknya seru luar biasa!

2. Main game Pagi Emang Nggak Bisa Tergantikan

Kelar jalan-jalan subuh, biasanya sih dulu anak-anak bakal tetap ngumpul kemudian biasanya main PS alias playstation. Aktivitas satu ini juga memorable banget. Apalagi di masa kecil dulu, khususnya bagi angkatan 90an, PS tengah happening banget dan semua rental pasti penuh pas pagi.

Beragam game dimainkan saat itu dan jagoannya tetap satu. Yup, Winning Eleven. Biasanya dibikin turnamen biar semua anak bisa ikut dan mainnya gantian. Kadang juga main game-game bertema petualangan dan akhirnya waktu pun terlewatkan dengan cepat.

3. Mbolang ke sawah dan sungaiSiang Sampai Sore

Kalau ingat masa kecil dulu seperti pengen ketawa, ya. Sudah tahu puasa itu bikin haus malah main permainan yang melelahkan jalan jalan ke sawah atau ke sungai misalnya. Serunya lagi, biasanya permainan ini dilakukan pas siang hari di mana matahari tengah terik-teriknya.

Main di sungai siang hari

Emang bikin haus setengah mampus, makanya kita dulu pasti pernah sekali dua kali melakukan kecurangan. Ya, pergi ke masjid sebelah dengan dalih cuci muka padahal minum air di keran. Memang bikin puasa batal sih, tapi aktivitas yang semacam ini selalu seru ketika diingat lagi.

4. Setelah Ngaji Main Lagi

Karena puasa, jadwal ngaji setelah magrib pun diganti dengan sore hari setelah ashar. Kalau dulu sih pasti begitu. Ngaji setelah ashar ini juga menyenangkan terutama karena durasinya pasti sebentar, hehe. Setelah itu, aktivitas setelahnya tentu adalah main lagi

Petak umpet kek, main kelereng kek, atau bahkan berjibaku main bola lagi. Deretan aktivitas sore ini pasti pernah juga kamu lakukan. Kegiatan bermain ini nggak bakal berhenti kecuali adzan magrib memanggil. Kalau sudah begitu biasanya anak-anak bakal lomba lari ke masjid untuk meneguk yang seger-seger.

5. Petasan atau long bambu dan nggugah saur Menghiasi Malam

Setelah magrib hal yang pasti dilakukan adalah ngumpul dan bermain lagi. Kali ini permainannya beda tentu saja. Anak-anak biasanya akan main petasan. Nggak hanya yang bunyinya keras tapi juga petasan-petasan yang meluncur ke angkasa itu. Petasan-petasan akan berhenti jika adzan isya sudah terdengar. Biasanya sih, anak-anak bakal kabur pas terawih untuk main petasan lagi.

Main petasan .

Kegiatan malam hari tentu saja nggak cuma main petasan aja, tapi juga nggugah saur.
aktivitas membangunkan orang-orang sahur keliling kampung sambil klotekan. Kegiatan ini sebenarnya nggak hanya dilakukan anak-anak kecil tapi juga orang-orang dewasa. Tapi, yang paling antusias tetep bocah-bocah. Biasanya, karena ngantuk, kita sendiri nggak bangun sampai pagi.

Ah, menyenangkan sekali aktivitas di masa kecil ini. Seandainya waktu bisa diulang, ya. Setelah sebulan mengalami banyak kesenangan unik, akhirnya jack pot bagi anak-anak pun tiba. Ya, apalagi kalau bukan lebaran dan uang THR. Lengkap sudah kesenangan selama sebulan lebih. Alhasil, anak-anak pun pasti bergumam, “kenapa sih nggak tiap bulan aja puasa dan lebaran?”

Kampung Manisku.

Lahir dan dibesarkan di sini,di sebuah kampung di daerah Bantul timur, kampung yang sangat unik. Betapa tidak,  desa terkenal dengan kampung santri, karena memang di sini terdapat banyak pondok pesantren. Setiap sore pasti ada puluhan anak kecil berjilbab membawa Al -Qur’an untuk mengaji.

Selain pondok pesantren, ada hal lain yang membuat kampung ini terkenal . Hampir setiap siang akan datang puluhan motor dan mobil.Ya,klitikh2an,pusat Onderdil motor terbesar di Yogyakarta.