Minuman camcau yang sentimentil.

Setiap hari raya Idul Fitri,biasanya kami punya tradisi Unik di rumah mbah si bhol. Namanya Hasbullah saya memanggilnya Pak tuo ,kadang pak wo. Ia adalah kakek saya.

Pak wo  tinggal di sebuah rumah petak persis di samping rumah saya. Pak wo selalu menjadi orang yang selalu saya datangi, setelah ibu saya, bapak saya, yang saya sungkemi untuk meminta maaf saat lebaran.

Saya punya semacam tradisi unik di rumah Mbah si bhol. Di rumahnya, saat lebaran, dari sekian banyak kudapan di ruang tamunya yang sangat sederhana, ia selalu menyediakan minuman camcau. Ya, tentu saja “camcau”,ini buatan anak-anaknya atau lek saya.

Tape ketan, dan minuman camcau mbah si bhol , selalu menjadi hidangan yang sederhana namun spesial setiap lebaran.

Selama hampir sepuluh tahun terakhir, saya  selalu menjadi orang yang mereyen tape dan minuman camcau itu, yang sudah menjadi ciri khas di rumah pak wo setiap lebaran. Camcau yang berwarna hijau tua bertekstur kenyal dan lembut menyerupai jelly, sangat lembut.Bukan cincau modern yang model kotak-kotak.

Saking seringnya, Pak wo sampai hafal kebiasaan saya itu. Saya tak ubahnya seperti seorang petugas quality control untuk camcau yang disediakan pak wo.

Tetapi rupanya, sekarang orang sudah jarang yang menyajikan minuman camcau,karena mungkin ribet cara membuatnya,lebih praktis dengan membeli minuman semacam orson atau sirup marjan.

Ketika silaturrahmi ke tetangga,ternyata masih ada yang menyajikan minuman camcau.Begitu melihat minuman camcau tersebut ,ingatan saya langsung tertuju pada pak wo.

Lebaran tahun ini menjadi lebaran yang sangat berbeda. Bukan karena situasi perekonomian yang sedang lesu, tapi karena tahun ini, saya tak akan mereyen minuman camcau di rumah Pak wo.Padahal saya masih bisa menemukan minuman camcau di tempat lain, meskipun resep dan cara membuatnya sama tetapi saya merasakan itu tetap saja berbeda.Dan begitu pula lebaran di tahun-tahun berikutnya.

Mbah Hasbullah meninggal sekitar setengah tahun lalu diusia sekitar hampir seratus tahun. Rumah Mbah si bhol kini kosong. Dan tak akan pernah lagi ada minuman camcau dan tape ketan berbungkus daun pisang di meja ruang tamunya untuk saya cicipi.Tidak akan ada lagi simbah yang selalu semangat ketika menceritakan kisah hidupnya di jaman Belanda, Jepang dan pasca kemerdekaan.

Aneh sekali. Memandangi minuman camcau di dalam gelas rasanya tak pernah sesentimentil ini.

Khushuushon ilaa ruuhi ………Mbah Hasbullah……………Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, lahul faatihah.

Tinggalkan komentar