Petani buruh tandur

Ajakan menanam sayur demi cita-cita luhur, ketahanan pangan di kala pandemi, menarik juga rupaya. Kebetulan ada sedikit tanah nganggur di sawah dan berangkatlah aku ke sawah. Segera rumput dibersihkan kemudian cangkul diayunkan, dan ooohh ternyata berat juga ya mencangkul. Belum sampai setengah jam pergelangan tangan pegal-pegal, sementara lengan keju-keju. Tentu ini juga karena aku belum terbiasa. Tetapi bahkan untuk mereka yang terbiasa, kerja demikian sepertinya tetap bukanlah kerja yang ringan. Apalagi jika ingat seberapa hasil yang didapatkan. Belum lagi jika gagal panen, yang juga menjadi ancaman.
Dari sesorean mencangkul di sawah, aku juga belajar, melihat secara langsung kerja-kerja yang dilakukan petani, selain mencangkul seperti yang saya coba lakukan tentunya.
Sobo sawah
Di sisi selatan tempatku mencangkul, nampak mbokdhe legi sedang menaburkan pupuk urea ke tanaman padinya. Menggunakan ember yang dijinjing, mbokdhe mubeng berkeliling sawah menaburkan pupuk secara merata. Sebelum memberikan pupuk, mbokdhe terlebih dahulu mencabuti rumput yang ada di sawahnya, “matun” orang sini menyebutnya. Mengelilingi sawah membungkuk menjumputi rumput mungkin kakinya gatal -gatal karena sesekali terlihat mbokdhe menggaruk-garuk kakinya, Melihat dan membayangkannya saja aku ikut keju, hehehe.
Selesai “matun” mbokdhe legi menyulami. Menambal padi yang tidak tumbuh dengan baik dengan menanaminya dengan yang baru. Ya, tidak semua padi tumbuh dengan baik, ada daerah yang bolong-bolong dimana padi tidak tumbuh secara baik, daerah yang aliran airnya lumayan deras biasanya. Padi di tempat-tempat inilah yang perlu disulami.

Sementara di sisi yang lain ada seorang ibu, aku tak tahu namanya, tapi anaknya adalah temanku. Ia sedang “tunggu manuk” (menunggu burung), tentu istilah yang lebih pas adalah menunggu padi, tapi orang lumrah menyebutnya seperti itu. Ia berkeliling menghalau dengan suara mulutnya yang keras,jika burung yang datang hinggap di padinya,meskipun suara bengokan ibunya tadi sangat keras tetapi burung -burung emprit tersebut ngeyel seperti tidak menghiraukan.Kudu mbengok Karo disawat nggo watu baru emprit – emprit lugu itu minggat . Di sawahnya juga dipasang bambu-bambu dengan bendera plastik juga untuk menakut-nakuti burung yang mau memakan padinya. Ada masanya dahulu, alat untuk menghalau burung tak cukup hanya bendera seperti itu. Tetapi masih ditambah dengan kaleng-kaleng bekas susu. Kaleng-kaleng diisi batu, diikat dengan tali direnteng sepanjang sawah. Di salah satu ujung sawah ada gubug tempat orang berteduh, juga menunggu padinya. Orang tinggal menarik ujung tali yang berisi rentengan kaleng tadi saat banyak burung yang datang mau hinggap. Burung-burung pun terkaget dan terbang ke lain tempat.
Di sisi yang sama dengan si ibu tapi dengan jarak yang lebih jauh, nampak lek panut, ia tetanggaku, tengah membuat pinihan, tempat benih padi ditumbuhkan. Tanah dicangkul digemburkan dengan air yang lumayan. Kemudian diratakan. Itu disiapkan untuk benih padi yang hendak ditanam.

Itu tadi beberapa kerja petani yang kulihat selama seharian di sawah. Jika diurutkan maka akan demikian. Mulai dari menyiapkan tempat pembenihan, membersihkan dari rerumputan, menambal padi yang bolong, memberikan pupuk, hingga menjaganya dari burung-burung. Ada kerja-kerja semacam itu dan masih ditambah kerja-kerja lainnya di balik nasi yang kita makan setiap hari. Waktu sudah menjelang petang, aku kemudian pulang.