Rute sepeda ke Tebing Breksi dan Candi ijo.

Ndok ceplok

Candi ijo dan tebing breksi

Perjalanan terbaik kadang adalah yang tidak direncanakan sama sekali. Saya pikir begitu. Pun dengan gowes saya di Jogja jumat lalu. Saya berkesempatan gowes bersepeda menyusuri candi-candi jogja hingga ke tebing breksi.

Petualangan susur candi dimulai dari candi Sambisari ini
Petualangan susur candi dimulai dari candi Sambisari ini
Puas melihat-lihat candi Sambisari, terpikir untuk cari jalan pintas menuju ke candi Prambanan. Karena Candi Sambisari dan candi Prambanan sama-sama berada di utara jalan solo. Saya pikir kalau mblusukan dari candi Sambisari melewati kampung-kampung penduduk nanti pasti akan sampai di candi Prambanan juga. Akhirnya saya bulatkanlah tekad mblusukan di sini. Mumpung sepedanya mendukung.

Dari candi Sambisari saya balik arah lagi ke selatan. Lalu di perempatan kampung pertama yang saya temui saya belok ke kiri. Dari sini prinsip gowes saya adalah harus terus lurus ke arah timur jangan ambil yang belokan ke kiri mestinya nanti akan ketemu Candi Prambanan. Gowesan pagi itu nikmat sekali. Jalanan kampung yang telah teraspal membuat gowesan jadi ringan. Kanan kiri masih persawahan dan diselang-selingi oleh rumah-rumah penduduk. Sampai suatu saat saya tiba dekat sebuah selokan air yang berada di sebuh percabangan dan ada bapak-bapak yang sedang asyik mancing. Saya konfirmasi kembali arah ke Candi Prambanan kepada si bapak yang dengan ramahnya lalu memberitahu untuk terus mengikuti selokan mataraman nanti akan bertemu jalan Solo. Ambil yang arah ke timur 3km kemudian bisa ketemu Candi Prambanan. Wah ternyata saya sudah berada di sisi selokan Mataram yang terkenal di jogja itu.

Asyik ternyata gowes di sepanjang selokan mataram. Nun di sisi selatan ada terlihat sebuah batu berpundak seperti candi. Saya bertanya dalam hati candi apa ya itu? Gak mungkin lah itu candi Prambanan yang seharusnya masih ada di sebelah timurnya lagi. Sebenarnya ingin ke sana tapi terikat rencana awal ke tebing Breksi melalui candi Prambanan akhirnya saya abaikan keinginan mendekati candi tersebut.

Terus saja gowes menyusuri selokan mataram. Kanan kirinya persawahan padi yang sudah tinggi menghijau. Setelah cukup lama menyusuri selokan Mataram akhirnya saya bertemu dengan jalan raya Solo. Gowes arah ke timur di sepanjang jalan Solo yang ramai pagi itu harus hati-hati. Gak banyak rombongan pesepeda yang saya temui. Akhirnya saya melihat papan petunjuk arah candi Prambanan dan panggung Ramayana di sebelah kiri. Saya belokkan sepeda saya ke sana. Tak lama di sebelah kanan saya sudah terlihat Candi Prambanan yang tinggi menjulang. Benar-benar monumen masa lalu yang Indah. Terletak di dataran yang luas kehijauan dengan sekitarnya yang masih banyak persawahan dan rumah penduduk tanpa bangunan-bangunan tinggi membuat Prambanan terlihat menjulang anggun menyeruak diantara pepohonan peneduh jalan. Makin saya percepat gowesan kali itu untuk menemukan gerbang pengunjung.

Akhirnya saya tiba di gerbang pengunjung. Sepertinya gerbang ini diperuntukkan untuk pengunjung sendratari Ramayana. Terlihat dari tata letak lampu sorot dan sebuah pelataran luas yang saya tebak itu pasti untuk pementasan Ramayana. Tapi dari posisi saya di situ, candi Prambanan sudah terlihat tinggi kok. Spot yang baik untuk swafoto nih. Buat bukti lagi kalau saya sudah gowes hingga Prambanan.

Candi Prambanan di latar belakang
Candi Prambanan di latar belakang
Selesai menikmati keanggunan Candi Prambanan. Saya lanjutkan gowes hingga tujuan awal saya tebing Breksi. Saya balik arah lagi ke jalan Solo. Dekat situ ada lampu merah yang kalau dari google map seharusnya itu adalah persimpangan prambanan ke arah piyungan. Dari google map saya diminta belok kanan ke arah piyungan untuk mecapai tebing Breksi.

Di kiri jalan saya bisa melihat adanya bukit kecil dan tebing sepanjang perjalanan saya. Saya pikir mestinya tebing Breksi sudah dekat ini, sok tahu ya..ternyata saya memang sok tahu . Saya masih belum menemukan Tebing Breksi! Hingga akhirnya saya melihat plang petunjuk ke Tebing Breksi. Semangat kembali menggelora kala mengetahui tujuan sudah dekat. Tapi tuiiing..saya tertegun melihat jalan di depan berupa tanjakan curam. Saya lihat setelah tanjakan pertama kendaraan diatas terlihat berjalan mendatar lalu nanjak lagi hingga ujung tanjakan di atasnya. Saya lihat dari atas banyak anak-anak sekolah berjalan kaki turun ke bawah nampaknya baru selesai olahraga bersama atau hiking. Banyak juga anak-anak yang berjalan turun sambil bercengkrama dengan riangnya. Masa sekolah memang masa-masa yang indah.

Tekad sudah bulat pantang untuk mundur. Gowesannya sudah sampai disini masak lihat tanjakan terus puter balik. Akhirnya gowes lanjut pelan-pelan saja. Gear sepeda saya pindahkan yang paling kecil. Tapi tetap saja nafas saya gak bisa dibohongi. Kerap berhenti untuk mengatur nafas, mengistirahatkan dengkul ini yang kepanasan. Gowes lagi pelan-pelan istirahat lagi yang lama, gowes lagi pelan-pelan..hadeuh. Begini nih kalau gowes sendirian. Capek ditanggung sendirian. Gak ada yang menyemangati..apalagi mijetin paha yang keram. Widih ngeri banget kalau sendirian di tanjakan ini paha saya kram. Semangat terus pelan-pelan saya gowes putus nyambung- putus nyambung di tingkahi oleh sorakan anak-anak sekolah di pinggir jalan menyemangati saya membuat siksaan tanjakan ini agak terobati. Hingga akhirnya saya melihat belokan masuk ke tebing Breksi di sebelah kiri..horeee akhirnya 1.5 km tanjakan itu bisa saya lewati dengan waktu satu jam. Memalukan dunia perdengkulan ini .

Tanjakannya uedann
Tanjakannya uedann
Istirahat sebentar sebelum masuk ke lokasi tebing Breksi. Lalu saya gowes ke dalam. Melewati loket karcis. Ternyata sepeda saya gak di stop dan dimintai retribusi alias gratis. Terima kasih ya pak. Segala siksa nestapa saat gowes nanjak di sini terbayar lunas saat tiba di sini. Gak kebayang deh kalau pesepeda masih dikenakan tarif masuk. Bisa pada banting sepeda tuh kita…

Tebing breksi.

Sepeda bisa leyeh-leyeh setelah disiksa ditanjakannya
Sepeda bisa leyeh-leyeh setelah disiksa ditanjakannya tebing-breksi-yogyakarta memang terlihat menakjubkan. Bayangkan jika bukit dihadapan anda terpotong oleh cangkul raksasa yang sangat tajam. Irisannya akan membuka lapisan batuan yang berada di bawah permukaan tanah. Konon lapisan batuannya terbentuk sedari jutaan tahun yang lampau. Untuk menarik lebih banyak pengunjung. Tebing Breksinya sudah dipercantik dengan tiang-tiang berornamen di sisi atas tebing. Dan ada arena pertunjukan di sisi tebing dengan tempat duduk panjang melingkari arena yang berada lebih rendah dari posisi penonton. Jika di lihat dari atas, mirip sekali dengan arena teatrikal gladiator romawi kuno yang sering terlihat di film – film Hollywood. Di sebelah atas lagi berdekatan dengan area parkir roda empat disediakan tempat istirahat yang diberi atap untuk berteduh dari sengatan mentari yang bener-bener panas di lokasi ini. Plus dengan warung penjual makanan dan minumannya. Dan jangan khawatir buat pengunjung goweser di sana juga sudah di bangun tempat memarkirkan sepeda juga yang terpisah dari parkiran kendaraan bermotor. Keren yak lokasi wisata juga menyokong gerakan hidup sehat para goweser maniak nanjak di jogja.Candi ijo pagi hari.

Dari tebing Breksi sudah hampir pukul sebelas siang. Balik ke arah kota otomatis sepeda tidak perlu dikayuh. Tinggal ikut gravitasi saja. Ternyata gowes di turunan ekstrem bukan berarti segalanya jadi enak. Turunan curam beraspal bagus ternyata bisa membuat kecepatan bisa mencapai 80 km/jam. Luar biasa, terpaksa tetap harus waspada pada kendaraan yang melintas dari depan kita dengan jari yang tak pernah lepas dari tuas rem. Satu jam dipakai buat nanjak turunnya hanya butuh lima menit. Ckckck. Kok.ya ada yang suka menyia-nyiakan waktunya dengan gowes nanjak.Candi ijo full kabut.

Source:

https://www.instagram.com/explore/locations/305329349933320/tebing-breksi-yogyakarta/Candi ijo dari dekat

Bukit Klangon merapi

Tanjakan BNI,cempluk dan watu lawang Bantul

Tinggalkan komentar