Mencoba jalur sepeda Di Makam Ratu Malang Gunung kelir pleret.

Untuk ke Situs Makam Gunung Kelir Pleret , dulu tidak ada jalur sepeda,dan sepeda harus di pinggul untuk menuju ke Makam gunung kelir ini.Sekarang sudah di sediakan jalur untuk sepeda gunung,meskipun belum sempurna tetapi lumayanlah. Mendengar nama Gunung Kelir yang terdengar eksotis di telinga membuat minat saya langsung pingin untuk mengunjunginya meskipun menggunakan sepeda, kebetulan rumah saya cuma dekat.

Perjalanan ke Makam Gunung Kelir dari pasar pleret ke utara sekitar lima ratus meter lalu belok kanan, atau ketimur lurus melewati daerah persawahan yang kini menjadi tempat wisata.ya,mbulak wilkel.Lurus terus sampai mentok dan belok kanan. Makam Gunung Kelir ada di perbukitan Gunung Kelir di sebelah kanan jalan. 

Ketinggian bukit Gunung Kelir yang tingginya 99 mdpl ,tidak terlalu nanjak untuk ukuran sepeda gunung. Setelah melewati lereng lumayan curam dengan nuntun sepeda,kemudian berjalan sambil minggul sepeda karena jalan berbatu , kemiringan tidak begitu curam, diapit gerumbul perdu, dan tak beberapa lama kemudian saya telah sampai di sebuah dataran luas. 

Gerbang masuk menuju Makam Gunung Kelir dengan gapura yang telah hancur, serta tembok bata tebal dengan banyak bagian telah runtuh, karena gempa. Tembok ini mengelilingi area seluas 900 m2, dimana di dalamnya terdapat makam Ratu Mas Malang, Dalang Panjang Mas, dan makam-makam lainnya yang terlihat cukup tua. Panjang Mas yang beristri Ratu Mas Malang adalah dalang Keraton Mataram sejak masa Panembahan Sedo Krapyak.

Cinta Amangkurat 1

Amangkurat 1 menunjukkan kecenderungan berlebihan saat mencintai Ratu Malang. Demi perasaan cintanya itu, dia bahkan tega mengabaikan urusan negara.

Makam Ratu Malang (kebudayaan.kemdikbud.go,id)

CINTA Amangkurat 1 kepada perempuan satu ini begitu dalam. Pesonanya  yang memikat hingga menyebabkan Amangkurat 1 rela melakukan berbagai cara demi memperistrinya.

Kisah keduanya bahkan terlukiskan dalam berbagai narasi tradisional dan sumber-sumber Belanda.

J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijskroniek menyebut pertemuan pertama raja dengan perempuan pujaannya itu terjadi saat ia mengeluarkan titah mencari seorang perempuan untuk diperistri. Amangkurat 1 lalu diperkenalkan oleh Pangeran Blitar dengan putri Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog terkemuka.

Parasnya yang amat cantik langsung memikat hati sang raja. Ia pun segera mempersiapkan segala keperluan untuk mempersuntingnya. Namun sayang perempuan ini telah menikah dengan Kiai Dalem (Ki Dalang Panjang Mas), yang berprofesi sama dengan ayahnya. Ia pun sedang mengandung dua bulan dari hasil pernikahannya itu.

Meski demikian, Amangkurat 1 tetap bersikukuh memboyong perempuan tersebut ke istana. Raja lalu memberikan gelar “Ratu Wetan” kepadanya. Ratu baru ini disebut-sebut merusak rumah tangga di kerajaan.

Peneliti HJ De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram menyebut meski tidak membuat raja melupakan istrinya yang lain, perhatiannya jadi lebih banyak dialihkan kepada istri barunya ini. “Itulah sebabnya ia disebut orang Ratu Malang (yaitu yang melintang di jalan)”.

Sekitar tahun 1649, putra Ratu Malang dari pernikahan sebelumnya lahir. Meski bayi itu darah daging Kiai Dalem, Amangkurat 1 tidak sedikitpun kehilangan cintanya. Setelah kelahiran putra tirinya, demi menghindari masalah  yang tidak diinginkan, raja mengeluarkan perintah untuk membunuh Kiai Dalem.

Di dalam teks Babad Tanah Jawi, saat akan memperistri Ratu Malang, Amangkurat 1 disebut secara paksa merebut perempuan itu dari tangan suaminya. Maka tidak heran jika ia ingin melenyapkan pria yang sangat dicintai istrinya itu.

Namun menurut catatan pemerintah Belanda, Daghregister 1677, yang didapat dari penuturan salah seorang pengawal istana, Kiai Dalem tidak meninggal karena dibunuh Amangkurat 1 melainkan meninggal secara wajar. Kemudian setelah menjadi janda, wanita itupun dipersunting oleh raja. De Graaf meragukan pernyataan yang kedua ini. Menurutnya Amangkurat I telah melakukan dosa yang terlalu banyak, sehingga cara pertama bukanlah sesuatu yang mengherankan.

“Karena perbuatan jahat Sunan Mangkurat memang sudah terlalu banyak, maka tidak ada gunanya lebih mementingkan cerita tutur yang belakangan daripada berita pejabat istana yang lebih dahulu dan selayaknya lebih dapat dipercaya,” tulis De Graaf.

Mengetahui Kiai Dalem tewas dibunuh Amangkurat 1, Ratu Malang menangis siang dan malam. Ia sangat meratapi kematian pria yang pernah jadi suaminya itu. Ia pun lalu jatuh sakit dan meninggal tidak lama kemudian. Namun raja melihat ada kejanggalan dalam kematiannya. Karena sebelum meninggal sang ratu mengeluarkan banyak cairan dari dalam tubuhnya, seperti gejala keracunan.

Amangkurat 1 yang murka segera menyeret dayang-dayang dan pelayan istana yang selama beberapa waktu dekat dengan Ratu Malang. Ia curiga ada orang yang sengaja membunuh ratunya itu karena raja mulai mempertimbangkan untuk memberikan takhta kepada putra Ratu Malang yang bahkan bukan darah dagingnya.

“Dapat dimengerti bahwa Sunan curiga ketika istrinya meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala aneh.

Ia menjadi risau sendiri terhadap hal-hal remeh. Andai kata peracunan yang menjadi penyebab maka si pelaku tentunya harus dicari di kalangan terdekat si korban, yaitu para dayang yang pernah sekali berkomplot dengan Putra Mahkota pembangkan itu (Pangeran Dipati) untuk melawan raja,” ucap De Graaf.

Akibat kecurigaan itu, Amangkurat I mulai berlaku liar. Thomas Stanford Raffles dalam karya fenomenalnya History of Java menggambarkan bagaimana raja amat marah kepada dayang-dayangnya. “… raja mengurung 60 orang dayang-dayang istrinya di dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua”.

Kematian Ratu Malang menjadi pukulan yang amat berat bagi Amangkurat 1. Dalam laporan pejabat Belanda, raja sampai tidak bisa menjalankan pemerintahannya dengan baik hingga 4-5 tahun setelahnya. Bahkan saat pejabat tinggi negeri Belanda berkunjung ke Mataram, Amangkurat 1 tidak hadir menyambut utusan itu. Sambil menjelaskan keadaannya, para menteri kerajaan sementara menggantikan tugas-tugas sang raja.

Jenazah sang ratu dibawa ke Gunung Kelir untuk dipusarakan. Dalam bukunya, De Graaf menyebut kalau selama beberapa hari liang lahat Ratu Malang tidak ditutup atas permintaan raja. Siang dan malam sambil membawa serta putranya, Amangkurat 1 diam di dekat makam itu meratapi tubuh perempuan pujaannya yang telah terbujur kaku. Kepergian raja menimbulkan kekacauan di keraton. Keluarga dan pejabat kerajaan terus berusaha membujuknya agar kembali pulang.

“Suatu malam Sunan mendengar dalam mimpinya bahwa Ratu Malang telah menemani kembali suaminya, Kiai Dalem. Setelah terbangun, dilihatnya jenazah Ratu Malang sudah tidak berbentuk manusia lagi. Setelah itu ia kembali ke keraton dan dengan marah diperintahkannya agar menutup liang lahat. Setelah itu suasana kembali tenang,” tulis De Graaf.

Menteri negeri Belanda Francois Valentijn juga sampai membuat sebuah tulisan, dalam Oud en Nieuw Oost-Indien, yang menggambarkan keadaan Amangkurat I pasca ditinggalkan Ratu Malang.

“Ketika wanita itu pada suatu waktu meninggal, Sunan menjadi sedemikian sedihnya sehingga ia mengabaikan masalah kerajaan. Setelah pemakaman istirnya, diam-diam ia kembali ke makam tanpa diketahui seorang pun. Begitu kasihnya kepada wanita itu sehingga ia tidak dapat menahan diri, dan turut mebaringkan dirinya di dalam …

Tinggalkan komentar