suporter satria muda

Stadion benteng Tangerang
“Wah, wasite disogok kuwi!”, teriak salah satu Paser bumi yang kemudian disusul dengan sahutan dan sumpah serapah oleh anggota Paser bumi lainnya.
Seakan tak terima, salah seorang benteng viola pun menjawab dengan teriakan ketus, “Ha pancen kok, wong wasit ro pemaine we larang wasite je, meh ngopo kowe?”
Jebul wong Tangerang lanyah boso jowo.
Sejurus kemudian, adu caci pun terjadi, dan bisa ditebak, hanya dalam hitungan menit, adu caci kemudian melebar menjadi aksi yang lebih brutal, saling lempar botol antara viola dan Paser bumi pun tak terhindarkan.
Tensi semakin panas saat para supporter meneriakkan serapah: “Degradasi… Degradasi… degradasi…!!!”.
Menit 82, Pemain Persiba Gonzales menyarangkan gol cantik ke gawang persita. Kedudukan berubah menjadi 1-1. Gol ini semakin memanaskan tensi.
Hasil yang tak terlalu buruk bagi kedua tim ini nyatanya tak menghindarkan kerusuhan antar kedua supporter yang sudah terjadi beberapa puluh menit sebelumnya. Kerusuhan akhirnya berlanjut hingga di luar stadion. Panpel tak mampu berbuat banyak. Jika di dalam stadion aksi rusuh antar dua kubu supporter hanya saling lembar botol, maka kali ini, di luar stadion, objek yang dilempar adalah batu.
Kedua kelompok supporter saling melemparkan batu dari jarak yang cukup dekat, sekitar 20-30 meter. Beberapa supporter dari kedua kubu nampak terluka karena terkena lemparan batu. Aksi tawur berlangsung selama kurang lebih setengah jam.
Tak dinyana, Kawan Saya Solopok tampil sebagai salah satu ujung tombak Paserbumi, ia maju dan berada dalam barisan terdepan Paser bumi yang meladeni lemparan-lemparan batu dari Benteng viola. Tanpa rasa takut (mungkin karena pengaruh ciu), ia maju ke depan sambil melempari barisan suporter viola dengan beberapa buah batu.
“Ojo kemajon su, kowe ki ra nggo helm, keno watu bocor ndasmu”, kata kemat kawan saya mencoba memperingatkan Solopok.
“Mati-urip ki nang tangane Gusti Alloh, ora nang tangane suporter su!”, teriak Solopok singkat sambil kembali melemparkan sisa-sisa batu yang masih ada di tangannya.
Saya nyengir, antara prihatin dan kagum. Mungkin ini yang dinamakan Tawakal Kaum Gentho.

Ono penyusupe siji,piss mat.

Kulon nuwun Tangerang tahun 2007.

https://jejaksinoer.art.blog/2021/11/30/shock-holigan-kanggotan/
